Keberadaan Panti Jompo dalam Islam

separator

Oleh Ustadz Muhammad Hazim

Dalam Islam keadaan atau kondisi seseorang sampai ke jompo ada dua tahapan, pertama karena memang faktor usia kemudian setelahnya keluarga berkewajiban membantu, karena bagian dari ta’awun dan silaturrahim.

Ta’awun dan silaturrahim merupakan sesuatu yang sakral, seorang muslim diwajibkan saling tolong menolong dalam kebaikan karena memang dibutuhkan, termasuk mengurus jompo atau lansia.

Siapa yang pertama kali memiliki kewajiban mengurus seorang jompo disaat kondisinya mulai melemah? Siapa lagi kalau bukan anak atau keluarga terdekat. Di dalam Al-Qur’an Allah Ta’ala menggandengakan Tauhid dan berbakti kepada kedua orangtua, termaktub dalam surat Al-Isra Ayat 23.

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.”.

Bagaimana untuk panti jompo itu sendiri? Sebenarnya tidak tergambarkan atas keberadaan panti jompo itu sendiri, jika dilihat dari sisi agama. Adapun tanggungjawab pemerintah, maka harus memberikan kelayakan tempat tinggal dan santunan kepada para lansia, tidak kemudian dititipkan ke panti. Umpamanya, ada rumah khusus untuk mereka kemudian bekerjasama dengan warga sekitar untuk mengontrol mereka agar kondisi mereka terjaga dengan baik.

Jika ada seorang anak yang sengaja menitipkan orang tuanya ke panti jompo, maka ini adalah bagian dari kedurhakaan. Justru kunci kesuksesan seorang anak adalah ketika ia berbakti kepada kedua orangtuanya, dan puncak berbakti kepada orangtua itu saat ia sudah lanjut usia.

Kondisi orang tua yang telah jompo itu ada dua, pertama sudah mengalami pikun atau sering lupa, dan yang kedua kondisinya yang telah renta atau lemah, membuatnya sulit mengurus dirinya sendiri. Kedua kondisi ini tetap menjadi alasan kewajiban anak atau keluarga untuk berbakti kepada orangtua.

Kita dapatkan kisah-kisah orang sholeh bagaimana bentuk bakti kecintaan mereka terhadap orang tua mereka, walaupun mereka dapati orang tuanya dalam keadaan lemah, stress, bahkan gila, namun mereka tetap melayani orang tua mereka sesempurna mungkin. Mereka tak menyoalkan kondisi orang tuanya, sampai semua kebutuhan orangtuanya mereka penuhi. Jadi sangat tidak pantas bagi seorang anak dengan sengaja menitipkan orang tuanya ke panti jompo.

Kemudian bagaimana jika ditemui ada orang tua yang meminta kepada anaknya untuk dititipkan ke panti jompo, dengan alasan tidak ingin merepotkan anaknya? Maka ini harus dicermati ada apa pada diri anak tersebut sehingga orang tua memilih untuk dijauhkan dari anaknya. Boleh jadi ada perilaku buruk dari anak atau mungkin dari pasangan suami/istri bahkan bisa datang dari cucu-cucunya yang berperilaku tidak sopan, karenanya harus diperbaiki muamalah antara anak dan orangtua agar tidak berlarut hubungan tidak baik tersebut kepada anak cucunya kedepan. Jangan memiliki pikiran bahwa semua keinginan orangtua harus diikuti tanpa mengetahui sebab-sebabnya.

Sehingga tugas anak adalah membuat orangtuanya senyaman mungkin berada disisinya seperti dulu sewaktu kecil ia diurus oleh orangtuanya. Buatlah orangtua menjadi bangga kepada anak-anaknya karena budi pekerti luhur yang datang dari seorang anak.

Kewajiban berbakti kepada orang tua juga dengan tegas Allah Ta’ala perintahkan dalam Al-Qur’an surat An-Nisa ayat 36 sebagai berikut:

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua”.

Inilah bukti bahwa berbuat baik kepada orang tua disandingkan dengan Tauhid kepada Allah Ta’ala. Ada hak kita kepada Allah Ta’ala dan hak kita kepada orang tua. Inilah Islam, mendudukan orang tua pada derajat yang sangat tinggi, yaitu dengan berbakti kepada kedua orangtua. Dan itu bagian dari silaturahim yang paling tinggi derajatnya setelah hak kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya.

Sehingga dari pembahasan diatas dapat kita simpulkan, membuat sakit hati orang tua walapun dengan berkata “ah” saja, itu adalah sesuatu yang dilarang dalam ajaran Islam. Fatwa para ulama mengatakan, andai kata ada ucapan yang lebih rendah dari “upp”, “ah”, “duh”, dan semisalnya, maka niscaya Allah Ta’ala akan menyebutkannya. Serendah-rendah ucapan yang membuat orangtua tersinggung, itu harus dihindarkan, termasuk sikap dan perilaku. Wallahu’alam