Hukum Seputar Shalat Jum'at Pertemuan 2

separator

[youtube url=”https://www.youtube.com/embed/tGRFxoWWJq8″]

Pada kajian “Fiqih Shalat Jum’at “ sebelumnya telah dibahas syarat-syarat wajib shalat jum’at beserta penjelasannya. Kemudian pada  kajian “Hukum Seputar Shalat Jum’at “ kali ini akan dilanjutkan penjelasan mengenai syarat syah didirikannya shalat jum’at. Adapun syarat syah shalat jum’at ada tiga, yang pertama dari sisi tempat adalah berupa daerah kota atau kampung (hunian manusia). Maksudnya adalah di tempat itu ada pendukduknya dan ada bangunan yang bediri disana. Dalil dari syarat yang pertama adalah Rasulullah ‘Alaihi Wassalam tidak memerintahkan kepada kaum bawali (kaum yang sering berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya) untuk melaksanakan shalat jum’at.

Syarat yang kedua adalah jumlah orang yang menghadiri shalat jum’at minimal 40 orang dari orang yang terkena kewajiban shalat jum’at. Mengenai syarat jumlah minimal yang mengikuti pelaksanaan shalat jum’at ini banyak sekali beda pendapat diantara ulama. Dalam hal ini kita wajib berhati-hati karena hukum asal shalat jum’at adalah wajib. Lalu syarat yang ketiga adalah waktu shalat jum’at masih ada. Apabila waktu shalat jum’at telah habis atau syarat syah tersebut ada yang tidak terpenuhi maka dilaksanakan shalat dzuhur.

Dalam hukum seputar shalat jum’at disebutkan rukun dalam shalat jum’at ada 3 perkara. Rukun yang pertama dan yang kedua adalah adanya dua khutbah jum’at, dimana khatib shalat jum’at berdiri pada dua khutbah dan dia duduk diantara khutbah tersebut. Kemudian rukun yang ketiga adalah didirikan shalat jum’at dua rakaat secara berjamaah. Sunnah-sunnah shalat jum’at antara lain, yang pertama adalah mandi atau membersihkan tubuh sebelum shalat jum’at. Sunnah yang kedua adalah menggunakan pakaian berwarna putih. Kemudian yang ketiga adalah memotong kuku, dan sunnah yang keempat adalah menggunakan minyak wangi. Dan disunnahkan jamaah untuk mendengarkan khutbah jum’at. Barangsiapa yang masuk masjid ketika imam sedang khutbah maka ia tetap mendirikan shalat dua rekaat secara ringan (shalat tahiyatul masjid) kemudian ia duduk.

Simak juga kajian dengan judul: fiqih shalat jum’at pertemuan 1 (part1), fiqih shalat jum’at pertemuan 1 (part 2), surga dunia