Tidak Ikhtiyar dengan Alasan Tawakkal Kepada Allah

Sahabat gema islam bertanya tentang tidak berikhtiyar dengan alasan tawakal kepada Allah ta'ala

Pertanyaan

Sebagian dilingkungan saya mereka enggan melakukan ikhtiyar dengan alasan bertawakkal kepada Allah dan berserah diri kepada takdir dan ketentuan-Nya. Apakah pendapat itu benar? Tapi mereka semuanya terpenuhi, makan nya terpenuhi dll. Mohon pencerahannya pak ustadz.

Jawaban

Kesempurnaan tawakal itu harus memenuhi dua hal yaitu bersandarnya hati kepada allah ta'ala dan ikhtiar dengan ikhtiar yang dihalalkan.

Dari Umar bin Al Khoththob radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ تَغْدُو خِمَاصاً وَتَرُوحُ بِطَاناً

”Seandainya kalian betul-betul bertawakkal pada Allah, sungguh Allah akan memberikan kalian rizki sebagaimana burung mendapatkan rizki. Burung tersebut pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali sore harinya dalam keadaan kenyang."

jadi nabi tidak contohkan burungnya hanya berdiam di sangkar mengharapkan rizki, tetapi burung-burung tersebut tetap keluar dipagi hari dengan kemampuan yang di berikan kepada allah ta'ala dengan paruhnya,sayapnya,dan kakinya untuk nencari rizki,untuk mencari kehidupannya, untuk memenuhi rizkinya lalu pulang di sore hari dan allah penuhi rizkinya.

Demikian pula dengan sahabat yang bertanya kepada nabi tentang ontanya apakah ia lepas begitu saja lalu tawakal kepada allah, atau di ikat dan tawakal kepada allah ta'ala.

Maka nabi katakan ikat onta itu dan bertawakalah kepada ALLAH SUBHANA HU WA TA`ALA .

Hadist lengkapnya adalah riwayat Imam Al-Qudha’i disebutkan.

قَالَ عَمْرُو بْنِ أُمَيَّةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : قُلْتُ : يَا رَسُوْلَّ اللَّةِ ! أُقَيّدُ رَاحِلَتِيْ وَأَتَوَكَّلُ عَلَى اللَّهِ، أَوْأُرْسِلُهَا وَأَتَوَكَّلُ؟ قَالَ : قَيِّدْهَا وَتَوَكَّلْ

“Amr bin Umayah Radhiyallahu ‘anhu berkata, ‘Aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah !!, Apakah aku ikat dhulu unta (tunggangan)-ku lalu aku bertawakkal kepada Allah, atau aku lepaskan begitu saja lalu aku bertawakkal ? ‘Beliau menjawab, ‘Ikatlah kendaraan (unta)-mu lalu bertawakkallah”.

Maka dalam hadist tersebut kita diharuskan bersungguh-sungguh terhadap apa yang bermanfaat bagi kita yaitu dengan menempuh cara ikhtiar lalu jangan lupa untuk senantiasa meminta pertolongan kepada allah ta'ala.

Maka dua hal digandengkan oleh nabi yaitu semangat bersungguh-sungguh dalam mencapai apa yang di ingginkan tapi jangan lupa meminta pertolongan kepada ALLAH ini adalah konsep tawakul yaitu ihtiyar bersandarnya hati kepda ALLAH SUBHANA HU WA TA’ALA.

Jadi salah besar dan termasuk bid’ah dalam beragama jika seseorang yang merasa penuh kepada ALLAH ia bersandar kepada ALLAH atas segala urusannya lalu ia berdiam tidak berihtiyar itu adalah bid’ah dalam beragama, kenyakinan seperti itu termasuk dalam faham jabariyah salah satu pemahamam sesat dalam islam, meskipun kemudian diberikan kepada ALLAH kemudahan itu namanya di istidroj.

Terkadang ALLAH memberikan keleluasan kepada mereka yang salah jalan dalam beragama bukan berarti ALLAH mencintainya bukan karena ALLAH meridhoinya akan tetapi ALLAH akan luluhkan mereka dari sisi yang mereka tidak sadari.

Apakah masih merasa aman dari azab ALLAH yang datang secara tiba-tiba ? ALLAH mempunyai rencana tersembunyi dan tidak ada yang merasa aman kecuali orang yang akan binasa.

Jadi siapa pun yang dalam hidupnya tidak menempuh jalan yang telah digariskan oleh allah ta'ala sendiri melalui rasulnya maka kemudian ia mendapatkan kemudahan duniawi dari ALLAH SUBHANA HU WATA’ALA maka ketahuilah itu adalah istidroj.

Maka demikian ketika nabi shallahu alaihi wasallam menyampaikan tentang orang yang beliau sampaikan ,apabila engkau melihat seseorang ALLAH berikan kemudahan dari dunia ALLAH berikan apapun yang dia inginkan di dunia padahal dia durhaka kepada ALLAH SUBHANHU WA TA’ALA , maka ketahuilah bahwa itu adalah istidroj

Apa bentuk durhakanya ? Yaitu tidak melaksanakan syariat yang diperintah oleh ALLAH  untuk dijalani ,maka walaupun diberikan kemudahan oleh ALLAH bukan berarti diridhoi oleh ALLAH SUBHANA HU WATA’ALA tetapi itu adalah bentuk istidroj yang nanti akan datang azab ALLAH baik di dunia maupun di akhirat.
wallahu a’lam.

***

Dijawab Oleh : Al Ustadz Abu Isa Abdullah bin Salam

Artikel mgitv.com

Komentar 0

Tidak ada komentar