Tahlilan & Doa Istri Kepada Suami Yang Sudah Meninggal

Sahabat gema islam bertanya tentang tahlilan dan seorang istri yang berdoa kepada suaminya yang meninggal.

Pertanyaan :

Di daerah saya jika ada orang yang meninggal biasanya di adakan tahlilan dibacakan nyasin itu bagaimana hukumnya ? dan juga bagaimana dengan doa seorang istri kepada suami yang sudah meninggal apakah sampai kepada suami ? kebetulan suami saya baru saja meninggal.

Jawaban

Doa istri atau doa siapa saja itu sampai kepada yang meninggal,dan untuk seorang istri di anjurkan berdoa untuk suaminya karna salah satu dari berbakti kepada suami itu selain berbakti ketika masih hidup sepeti berbakti kepada suami dan taat kepada suami ,dan demikian pula berbakti kepada suami ketika sudah meninggal dunia yaitu dengan mendoakannya,kemudian melaksanakan kebaikan-kebaikan seperti kebaikan suami,misalkannya suami senang bersodakoh maka ikuti terus kebaikan-kebaikan suami tersebut.

Adapun tadi membacakan surat nyasin,surat al fatihah ,atau membacakan al quran apakah sampai kepada yang mati atau tidak ? maka dalam perkara tersebut para ulama terdapat perbedaan apakah sampai atau tidak sampai, tetapi pendapat yang kuat adalah tidak sampai dan tentunya itu bukan amalan yang dilakukan oleh nabi Shallallahu Alaihi Wassalam karna kita mengetahui bahwa sebaik baik petunjuk adalah nabi Shallallahu Alaihi Wassalam.

Dan dalam perkara ini kita mengetahui dalil dalilnya dan bahkan jika seandainya bacaan al quran sampai kepada yang meninggal dunia(artinya jika yang berpendapat sampai)maka dalam caranya itu tidak ditentukan waktunya.

contoh pada malam sekian karna seperti ibadah yang lainnya kalau dinyakini sampai berdoa kepada yang mati maka dilakukan kapan saja tidak ditentukan seperti kita berdoa pada saat haji saja, tidak ada pengkhususan dalam berdoa ,berdoa kapan saja untuk yang meninggal dunia akan sampai bahkan berdoa kepada yang meninggal tidak perlu ke kuburan, ziarah kubur adalah keutamaan dan khusus kapan saja kemudian berdoa dalam sisi yang lain.

Bahkan jika para ibu/bapak menyakini bahwa mendoakan yang meninggal harus kekuburanya dulu itu tidak ada dalam syariat, jadi bukan berati kita harus kekuburannya untuk berdoa, berdoa dimana saja kapan saja dan itu akan sampai dan akan mustajab di sisi Allah taa’la.

Jadi demikian pula dengan bacaan al quran seandainya berpendapat boleh membaca al quran untuk yang meninggal, tidak dilakukan pada surah tertentu karena semua quran sama, tentunya ada keutamaan satu dengan lainnya seperti keutamaan surah al iklas,keutamaan ayat kursi,surah al fatihah.

Kemudian yang kedua adalah ditentukan pada hari-hari tertentu, itu jika berpendapat boleh tetapi pendapat yang kuat tentunya jika sesuatu itu bermanfaat atau tidak, bukan dengan perasaan kita, bukan dengan prediksi kita, tetapi ada dalil atau tidak, apakah dilakukan nabi atau tidak, jadi kita hanya perlu menggunakan kaidah “sebaik baik petunjuk adalah nabi Shallallahu Alaihi Wassalam” bahkah disebutkan dalam kaidah “kalaulah itu kebaikan maka mereka akan lebih dulu mendahului kita” .

Jadi pertanyaan jika membaca al quran untuk yang mati itu bermanfaat dan merupakan suatu amalan maka nabi Shallallahu Alaihi Wassalam akan terlebih dahulu membacakan al quran untuk khodijah radiallahu ta'ala anha yang mendahului beliau meninggal dunia, beliau akan membacakan untuk hamzah radiallahu ta'ala anhu, membacakan untuk salah seorang sahabat meninggal dunia mu’ab bin umair, anas bin nadr dan 70 para sahabat yang meninggal pada perang uhud , akan tapi nabi tidak membacakan.

Ketika abu bakr meninggal dunia, umar yang saat itu sabagai kholifah kedua, Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam tidak membacakan al quran ,dan ketika umar meninggal juga tidak dibacakan oleh ustman bin afwan radiallahu ta'ala anhu, dan demikian pula ketika ustman meninggal juda tidak dibacakan oleh ali radiallahu ta'ala anhu untuk ustman, dan para pemimpin-peminpin setelahnya juga tidak dilakukan oleh mereka dan meraka adalah sebaik baik generasi yang paling faham dengan agama ini Dan tentunya timbangan-timbangan ini harus kita pakai dan dengan itulah kita beragama dengan lurus.

***

Dijawab Oleh : Al Ustadz Abu Qotadah Al Atsary

Komentar 0

Tidak ada komentar